Mengenal Lebih Jauh Istilah ‘Overstay’

Overstay’ (bahasa Inggris) kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti ‘tinggal atau menetap lebih lama di suatu tempat melebihi batas atau kurun waktu yang ditetapkan/diberikan’. Bagi kawan-kawan yang selama ini mengikuti perkembangan isu imigrasi, bebas visa, paspor, dan seputarnya, pasti familiar dengan istilah yang satu ini.

Overstay sendiri adalah salah satu dari 3 jenis pelanggaran keimigrasian yang sangat umum, bersamaan dengan penyalahgunaan izin tinggal dan tidak memiliki izin tinggal (illegal stay). ‘Penyalahgunaan izin tinggal’ , misalnya ketika kita berlibur ke Singapura (bebas visa bagi WNI) atau wilayah Schengen (dengan menggunakan visa Schengen) lalu kemudian bekerja di sana tanpa visa kerja yang sesuai. ’Tidak memiliki izin tinggal’ bisa jadi karena memasuki wilayah suatu negara tertentu tanpa dokumen perjalanan/dokumen keimigrasian yang sesuai, atau dengan sengaja menghilangkan dan tidak bisa menunjukkan dokumen tersebut saat diminta oleh otoritas imigrasi setempat.

Mari kita bahas overstay lebih jauh (akan ada artikel lain yang membahas tentang ‘penyalahgunaan izin tinggal’ dan ‘tidak memiliki izin tinggal’). Saat ini, memang tidak banyak negara yang memberikan fasilitas bebas visa bagi WNI. Perbedaan yang cukup kental apabila kita bandingkan dengan Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, yang sudah menikmati bebas visa Schengen dan beberapa Negara maju lainnya. Akibatnya, WNI harus mengurus visa sebelum keberangkatan ke Negara tujuan non-bebvis (non-bebas visa) seperti Belanda, Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan lainnya.

Negara Bebas Visa bagi WNI

Apabila kita berkunjung ke suatu Negara yang memberikan fasilitas bebas visa bagi pemegang paspor biasa Indonesia, kita WAJIB TAHU berapa lama durasi kunjungan yang diizinkan dalam ketentuan bebas visa tersebut. Apakah 30 hari, 60 hari, 90 hari, atau hanya sekadar 14 hari saja? Contoh yang paling mudah, Singapura dan Malaysia. Kedua Negara tersebut memberikan fasilitas bebas visa selama 30 hari bagi WNI. Artinya, kita tidak bisa menetap lebih dari 30 hari sejak tanggal kedatangan. Apa yang terjadi apabila kita ingin menetap lebih lama dari 30 hari? Kita harus memohon visa atau izin tinggal yang sesuai dengan kebutuhan di perwakilan kedua Negara tersebut di Negara tempat tinggal kita. Ingat! Petugas imigrasi Negara mana pun berhak memberikan izin tinggal yang lebih pendek daripada umumnya apabila mereka merasa hal tersebut patut dilakukan. Alasannya, kadang hanya petugas imigrasi saja yang tahu.

Negara Non-BebVis bagi WNI

Salah satu kawasan wisata yang kini kian mainstream di kalangan wisatawan Indonesia adalah kawasan Schengen, yang terdiri dari 26 Negara di benua Eropa. Belanda, Belgia, Jerman, Italia, dan Prancis adalah sekian Negara yang berpayung di bawah naungan Schengen. Sampai saat ini, WNI belum mendapatkan fasilitas bebas visa ke Benua Biru tersebut. Ada sederet dokumen yang harus dipersiapkan oleh turis Indonesia dalam rangka mendapatkan ‘visa sakti’ tersebut.

WNI (katakanlah si A) berlibur ke Belanda dengan menggunakan visa Schengen. Visa Schengen si A berlaku untuk masa kunjungan 30 hari. Si A menetap di Belanda selama 90 hari. Berarti si A ‘overstay’ selama 60 hari. Apabila si A ingin menetap lebih lama di Belanda, maka si A wajib memohon izin tinggal atau visa yang sesuai dengan kebutuhan, misalnya untuk studi, bekerja, atau kepentingan lainnya.

Apa Konsekuensinya bagi Overstay-er?

Overstayer’ berarti pelaku tindakan overstay. Setiap Negara memiliki kebijakan dan hukum perundang-undangannya sendiri yang mengatur mengenai hukuman yang diberikan kepada pelaku overstay. Indonesia pun memiliki peraturannya sendiri terkait hukuman bagi WNA yang kedapatan overstay di Indonesia. Namun, ada beberapa konsekuensi umum yang kian menjadi ‘common sense’ di kalangan traveller:

1. Hukuman kurungan dan/atau denda.
Biasanya, apabila WNI kedapatan ‘overstay’ dan sekaligus ‘menyalahgunakan izin tinggal’ atau terlibat dalam suatu kasus tertentu, si WNI tersebut akan diamankan oleh otoritas terkait dan akan ditempatkan baik di rumah detensi imigrasi setempat atau di tempat yang sudah ditentukan untuk menunggu sidang. Apabila sidang membuktikan si WNI tersebut bersalah, maka WNI akan dikenakan hukuman kurungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Bisa juga, ada hukuman tambahan berupa denda yang akan dibebankan kepada WNI tersebut. Setelah menjalani sidang dan hukuman kurungan, maka WNI tersebut akan dipulangkan kembali ke Indonesia (deportasi).

2. Deportasi.
Deportasi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti: pembuangan, pengasingan, atau pengusiran seseorang ke luar suatu negeri sebagai hukuman, atau karena orang itu tidak berhak tinggal di situ;

Proses deportasi sendiri berbeda-beda di setiap Negara. Di wilayah Schengen, WNI yang kedapatan overstay bisa saja dipulangkan sesaat setelah sang WNI tertangkap, atau akan memakan proses yang cukup lama apabila si pelaku overstay tersebut kedapatan melanggar hukum lainnya (perhatikan poin nomor 1).

Di Amerika Serikat, ada istilah: voluntary departure dan removal. Voluntary departure berarti si pelaku overstay bersedia untuk kembali ke Negara asalnya dengan biaya pribadi tidak melebih tanggal yang sudah ditentukan pemerintah setempat. Removal berarti proses pemulangan seseorang dari Amerika Serikat menuju negara asalnya setelah sidang selesai dilaksanakan yang mana biaya dari pemulangan ini pada umumnya berasal dari kantung Pemerintah AS.

3. Kesulitan untuk kembali mendapatkan visa Negara tersebut.

Seorang WNI yang sudah kedapatan ov erstay di suatu Negara biasanya akan tercatat dalam database imigrasi Negara bersangkutan, sehingga bila suatu saat kembali mengajukan permohonan visa, besar kemungkinan permohonan tersebut ditolak (dengan alasan ‘catatan kelam’ keimigrasian). Bisa saja visa kembali diberikan, namun dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang berbeda dengan ketentuan pada umumnya.

4. Masuk dalam daftar cekal.

Pada umumnya, Amerika Serikat melarang WNI masuk ke wilayahnya selama 10 tahun apabila WNI tersebut kedapatan overstay selama lebih dari 1 tahun. Schengen Zone melarang WNI masuk ke dalam wilayahnya selama 3 tahun atau lebih, tergantung dari jenis pelanggaran overstay.

Maka itu, sangat penting bagi kita untuk memahami betul fasilitas bebas visa yang diberikan oleh suatu Negara. Perhatikan dengan teliti durasi yang diberikan. Apabila visa harus didapat sebelum keberangkatan, pahami visa secara teliti. Perhatikan masa berlaku visa dan tanggal berlakunya! Baik disengaja, atau pun tidak disengaja, OVERSTAY adalah OVERSTAY, dan konsekuensi akan datang menghampiri.

Sumber dan referensi:
https://www.researchgate.net/publication/298328566_Penegakan_Hukum_Terhadap_Warga_Negara_Asing_WNA_yang_Melanggar_Izin_Tinggal_Overstay
https://www.schengenvisainfo.com/news/consequences-of-overstaying-in-schengen-area/
https://kbbi.web.id/deportasi
https://immigration-law.freeadvice.com/immigration-law/immigration-law/voluntary-departure-from-the-us.htm
https://www.alllaw.com/articles/nolo/us-immigration/voluntary-departure-vs-deportation.html

@bebasvisaID
@IvanRT05

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: