Mengenal Istilah ‘Per-visaan’

Di zaman kekinian now ini, bepergian ke Luar Negeri sekiranya bisa dianggap kebutuhan premier. Beda ceritanya ketika kita sedang berpindah dari satu provinsi ke provinsi lainnya, bepergian ke Luar Negeri mewajibkan kita untuk membawa dokumen perjalanan yakni paspor. Saya rasa tidak perlu saya jelaskan secara panjang lebar di sini mengenai pengertian dari apa itu ‘visa’, sebuah persyaratan administratif yang diterapkan oleh Negara A kepada Negara B, dan sebaliknya.

Sudah banyak pemberitaan dan artikel yang beredar mengenai peringkat kekuatan paspor Indonesia di panggung internasional, Negara mana saja yang memberikan fasilitas kemudahan visa bagi pemegang paspor Republik Indonesia, dan lainnya.

Mari kita kenali lebih jauh mengenai tipe-tipe visa yang mungkin anda butuhkan suatu saat (dalam konteks ini, istilah berikut adalah yang diterapkan kepada WNI oleh Pemerintah Negara Asing):

– Bebas visa, atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan ‘visa-free’ atau ‘visa not required’. Cukup jelas, artinya kita sebagai WNI tidak perlu repot mengurus visa sebelum berkunjung ke Negara tujuan. Ada sekian puluh Negara yang memberikan fasilitas ini kepada kita, contohnya: seluruh Negara anggota ASEAN, Rwanda, Namibia, Maroko, Brazil, dan masih banyak lagi. Cukup bermodal paspor dan tiket penerbangan, anda bebas bepergian ke Negara-Negara tersebut bahkan sekalipun secara mendadak (jangan lupa bawa dana yang memadai yah…!).

– Bebas visa ‘bersyarat’ (Conditional visa-free facility), artinya ada syarat dan ketentuan yang berlaku sebelum kita bisa menikmati fasilitas bebas visa tersebut. Contohnya, adalah fasilitas bebas visa untuk liburan ke Jepang KHUSUS bagi pemegang paspor elektronik Indonesia. Sejak akhir tahun 2014, WNI yang memiliki paspor elektronik diberi kesempatan untuk mendapatkan ‘visa waiver’ yang berwujud sticker yang dilekatkan di halaman paspor. Paspor non-elektronik tidak mendapat fasilitas tersebut.

Seperti inilah wujud paspor biasa elektronik Republik Indonesia. Sumber Gambar
Image result for visa waiver jepang
Seperti inilah wujud sticker visa waiver Jepang. Sumber Gambar

– Visa required. Dalam bahasa Indonesia, frase tersebut berarti ‘visa dibutuhkan’. Saat ini, lebih banyak Negara yang menerapkan kebijakan ini, ketimbang yang memberikan fasilitas bebas visa. Contoh yang paling mudah, adalah Negara-Negara Uni Eropa, Amerika Serikat, Selandia Baru, Arab Saudi, Kuwait, dan masih banyak lagi. Kita harus mengumpulkan dokumen-dokumen yang menjadi persyaratan dalam proses permohonan visa, menyiapkan dana untuk membayar permohonan visa tersebut, menyerahkan formulir yang sudah diisi lengkap beserta dengan dokumen pendukung kepada Perwakilan Negara Asing terkait, lalu kemudian menunggu hasil keputusan permohonan visa tersebut sebelum bisa berangkat ke Negara tujuan. Ribet? Tentu!

– Visa saat ketibaan/kedatangan, atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah visa-on-arrival (VOA). Artinya, Negara tersebut TIDAK menerapkan bebas visa kepada WNI. Kita wajib mendapatkan visa yang sesuai dengan tujuan keberangkatan HANYA SAJA kita bisa mendapatkan visa tersebut setibanya di Negara tujuan. Loh, kok bisa? Tentu, sebab namanya saja ‘visa saat ketibaan’ bukan? Saya pribadi pernah berkunjung ke Turki pada awal tahun 2011, dan pada saat tersebut belum ada kebijakan visa elektronik. Setibanya di Bandara Istanbul, saya mengantre di jalur ‘visa on arrival’ untuk mendapatkan visa. Ada biaya yang harus kita keluarkan untuk mendapat VOA tersebut, nominalnya tergantung dari Negara tujuan. Tahun 2011, saya mengeluarkan dana sebesar 25 EUR untuk mendapatkan VOA Turki.

Image result for visa on arriva
Lajur visa on arrival di sebuah bandara .Sumber Gambar

Lalu dokumen apa saja yang harus kita siapkan untuk mendapatkan VOA tersebut? Pada  umumnya, siapkan dokumen berikut untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan:
-Bukti melanjutkan perjalanan keluar dari Negara tujuan, seperti tiket pesawat.
-Bukti reservasi penginapan di Negara tujuan. Apabila kita bermalam di tempat tinggal teman atau saudara, siapkan ‘surat undangan’ dari yang bersangkutan untuk ‘jaga-jaga’ apabila petugas imigrasi meminta. Lampirkan pula nomor telepon mereka apabila petugas imigrasi ingin melakukan kroscek.
-Bukti kegiatan kita di Negara tujuan, seperti: bukti reservasi kunjungan ke tempat wisata, surat undangan untuk menghadiri seminar (kalau tujuan kita adalah mengikuti seminar).
-Kalau dirasa perlu, bawa juga rekening koran selama 3 bulan terakhir, untuk siap siaga apabila petugas imigrasi ‘menantang’ kemampuan finansial kita sebelum diberi izin untuk masuk ke wilayahnya.
-Asuransi perjalanan. Memang banyak Negara yang tidak mewajibkan dokumen yang satu ini, namun tidak ada salahnya untuk mendapatkan asuransi perjalanan sebelum keberangkatan, untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.

Apa saja Negara yang menerapkan fasilitas ini kepada WNI?
Contohnya: Azerbaijan, Benin, Gabon.

Lalu apa bedanya memohon visa melalui Kedutaan atau Pusat Aplikasi Visa (VSF/TLS) dengan visa on arrival? Bedanya, kita tidak perlu repot-repot menyediakan dana, waktu dan tenaga untuk mengumpulkan segunung dokumen dan hadir di Kedutaan atau Pusat Aplikasi Visa Negara terkait.

– Tourist card on arrival. Intinya, sama saja dengan visa-on-arrival. Salah satu contoh Negara yang menerapkan tourist card ini adalah Suriname. WNI dikabarkan bisa mendapat tourist card setibanya di Suriname sejak akhir bulan Maret tahun 2016.

Image result for suriname tourist card
Seperti inilah wujud tourist card Negara Suriname.  Sumber Gambar

– Free visa-on-arrival. Dengan kata lain, visa saat kedatangan (VOA) namun tidak dipungut biaya sama sekali. Ada beberapa Negara asing yang menerapkan kebijakan ini kepada WNI, seperti Maladewa, Madagaskar, Palau.

– Visa elektronik, atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan eVisa (electronic visa). Kalau segala sesuatunya bersifat online sekarang ini, visa pun tidak mau kalah. Beberapa Negara asing memberikan fasilitas pengurusan visa secara daring, sehingga kita tidak perlu lagi hadir secara fisik di Kedutaan atau Pusat Permohonan Visa. Formulir permohonan visa sepenuhnya kita isi secara online. Visa elektronik sendiri sebenarnya ada beberapa ‘jenis’:

Pertama, visa elektronik yang mewajibkan si pemohon visa untuk melampirkan dokumen persyaratan secara online, seperti Australia, Selandia Baru, Kanada, dan Bahrain. Untuk Selandia Baru dan Kanada, kita pun wajib mengirimkan paspor ke Perwakilan Negara yang bersangkutan, sesaat setelah kita melengkapi formulir permohonan visa secara online namun sebelum permohonan visa tersebut disetujui. Visa Kanada masih berbentuk sticker, sedangkan Selandia Baru tidak. Kita akan menerima surat persetujuan visa melalui e-mail. Namun, kita tidak wajib hadir ke Kedutaan atau VFS. Australia tidak mewajibkan kita untuk mengirimkan paspor setelah mengisi formulir secara online, dan visa Australia pun tidak lagi berbentuk stikcer yang dibubuhkan di halaman paspor, melainkan sebuah surat yang akan dikirimkan melalui e-mail (sama seperti Selandia Baru).

Kedua, visa elektronik yang tidak mewajibkan si pelamar visa melampirkan dokumen apapun, seperti India, Sri Lanka, dan Turki. Kata kasarnya, ‘tinggal isi formulir’ saja dan visa akan dikirimkan ke alamat e-mail kita.  Ingat, cetak surat tersebut sebelum keberangkatan.

– Free visa atau free eVisa. Artinya, kita wajib mendapatkan visa, atau visa elektronik, sebelum keberangkatan namun dalam prosesnya tidak dipungut biaya. Irlandia, kendati tidak bebas visa bagi WNI, tidak memungut biaya administrasi permohonan visa yang diajukan oleh WNI. India, belum lama ini membebaskan WNI dari biaya permohonan eVisa. Mohon dicatat, FREE VISA tidak sama artinya dengan VISA FREE.

@IvanRT05

One thought on “Mengenal Istilah ‘Per-visaan’

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: