Gerak-Gerik ‘Rakyat Jelata’ Dukung Upaya Bebas Visa

‘Bebas visa’ kelihatannya menjadi topik yang sedang ‘trending’, bukan hanya di dalam negeri tapi juga di negara lain. Memang tidak bisa dipungkiri, fasilitas bebas visa yang diberikan oleh negara lain akan sangat memudahkan kita yang gemar bepergian ke luar negeri, terutama untuk mereka yang kadang dengan mendadak harus mengadakan kunjungan ke luar negeri, entah untuk tujuan wisata, tengok sanak famili, survei sekolah atau kampus, atau sekedar tanda tangan perjanjian bisnis. Kemudahan tersebut berarti kita tidak perlu lagi hadir di kedutaan negara tujuan untuk mendapatkan visa, tidak perlu lagi menyiapkan dokumen persyaratan yang kadang menggunung, tidak perlu lagi menyediakan waktu untuk pengurusan visa, dan yang tidak kalah penting, tidak perlu lagi menginvestasikan dana untuk keperluan visa. Biaya sebuah visa kadang bisa mencapai jutaan Rupiah.

Berdasarkan daftar yang baru saja dirilis oleh Henley & Partners, ada 63 negara di dunia yang memberikan fasilitas kemudahan visa (bebas visa, visa saat kedatangan, dan visa elektronik) kepada para pemegang paspor (biasa) Republik Indonesia. Jerman didaulat sebagai negara dengan paspor terkuat di dunia, dengan total 177 negara pemberi kemudahan visa. Singapura, negara tetangga Indonesia, duduk manis dalam daftar tersebut sebagai negara dengan paspor terkuat di panggung Asia Pasifik dengan skor 176. Timor Leste, mantan provinsi Republik Indonesia, mendapatkan status bebas visa Schengen pada bulan Mei 2015 lepas. Peringkat paspor Timor Leste meroket dan melampaui Indonesia dengan total skor terkini sebesar 85.

Kementrian Luar Negeri RI sampai kini terus mengupayakan bebas visa dari banyak negara, khususnya bebas visa Schengen yang sangat diantisipasi khalayak ramai, khususnya kaum muda mudi yang berencana menjelajah Benua Biru. Andaikan status bebas visa Schengen berhasil diraih, maka WNI bisa menjelajah 26 negara Eropa tanpa harus repot mengurus visa. Bepergian ke Belanda atau Perancis atau Italia, yang notabene merupakan negara anggota Schengen, secara spontan tidak lagi kendala bila bebas visa. Apresiasi harus kita berikan kepada Kementrian Luar Negeri RI yang dinahkodai oleh Ibu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang kerap kali mengangkat isu bebas visa dengan para mitra dari negara Eropa yang bersangkutan.

Lalu apa peran yang bisa diambil oleh rakyat Indonesia pada umumnya?

‘Dukung Gerakan Bebas Visa’

Petisi Schengen per 6 Maret 2018
Petisi yang ditujukan kepada Komisi Uni Eropa, sudah mendapatkan sedikitnya 4.188 suara (BebasVisaID).

Di Indonesia, muncul sebuah gerakan bertajuk ‘Dukung Gerakan Bebas Visa’ yang bertujuan untuk mendorong pihak-pihak terkait agar meningkatkan intensitas negosiasi bebas visa antara Indonesia dengan negara mitra. Kampanye daring berbasis media sosial yang sudah bergerak sejak tahun 2014 tersebut juga meluncurkan petisi (melalui change.org) yang ditujukan kepada para petinggi Komisi Uni Eropa untuk secepatnya menindaklanjuti wacana bebas visa Schengen untuk WNI yang sudah berdengung selama beberapa tahun belakangan ini. Petisi tersebut tercatat sudah mendapatkan 1.786 suara dan jumlah peserta pun terus bertambah.

Tidak hanya di dalam negeri

gerakan bebvis rwanda
Gerakan pemuda-pemuda di Rwanda menyerukan gerakan ‘Afrika Bebas Visa’ (Sumber)

Rupanya, ‘kampanye bebas visa’ tersebut tidak hanya di Indonesia. Ada beberapa negara lain yang juga meluncurkan inisiatif serupa. Afrika Selatan contohnya. Pada bulan November 2017 lalu, The Royal Commonwealth Society, bekerja sama dengan Kamar Industri Afrika Selatan (UK), media The South African, dan institusi lainnya menggelar sebuah acara publik yang bertujuan untuk mendorong pemerintah Inggris Raya untuk memberikan kembali status bebas visa wisata kepada warga negara Afrika Selatan. Pada tahun 2008, Afrika Selatan kehilangan status bebas visa wisata ke Inggris Raya. Acara tersebut juga dimeriahkan oleh para pendukungnya dari berbagai elemen masyarakat.

Selain Afrika Selatan, Rwanda pun juga punya inisiatif yang sama. Pemuda-pemudi Rwanda yang bernaung di bawah komunitas ‘Global Shappers’ (dan juga berpartner dengan World Economic Forum (WEF)) mengampanyekan benua Afrika yang tidak dibatasi oleh visa. Artinya, warga negara di seluruh kawasan Afrika bisa berkunjung ke negara Afrika lainnya tanpa harus mendapatkan visa terlebih dahulu. Dukungan terhadap kampanye tersebut juga berasal dari pemimpin asal Afrika seperti Presiden Paul Kagame dari Rwanda, Presiden Uhuru Kenyatta dari Kenya, dan juga miliarder asal Nigeria, Aliko Dangote

Orang Eropa pun punya inisiatif serupa

Rumania, yang notabene adalah salah satu negara anggota blok Uni Eropa dan juga rekan Amerika Serikat di blok NATO, punya kampanye yang sama. Sampai hari ini, Rumania masih harus tiba di ke perwakilan Amerika Serikat untuk mendapatkan visa wisata. Sedangkan sebagian besar rekannya di Uni Eropa diberi kemudahan visa oleh pemerintah AS berupa ‘visa elektronik’ (Visa Waiver Program) yang dapat dengan mudah diperoleh asalkan ada akses internet. The Romanian American Business Council, organisasi nirlaba yang memperjuangkan kepentingan warga Amerika Serikat keturunan Rumania, bahkan menyediakan petisi online yang bisa diakses melalui situs resmi dewan bisnis tersebut. Dalam situs tersebut, telah disediakan pula formulir yang setelah diisi akan otomatis dikirimkan kepada anggota Senat AS terkait.

twitter visa waiver polan
Akun Twitter ‘VisaWavierForPoland’ yang menyuarakan agar pemerintah AS bersedia memberikan fasilitas ‘visa waiver’ kepada warga negara Polandia (sumber).

Agak mirip nasibnya dengan Rumania, Polandia pun belum diberi fasilitas ‘Visa Waiver’ oleh pemerintah AS. Negara dengan bendera versi terbalik Sang Saka Merah Putih yang juga mitra AS dalam blok NATO pun tidak diberikan fasilitas kemudahan visa oleh pemerintah AS. Dikukuhkan lah sebuah akun Twitter bertajuk VisaWaiverForPL yang menyuarakan dukungan agar Polandia secepatnya ikut bergabung dalam daftar negara penerima ‘Visa Waiver’ versi AS. Akun tersebut lahir pada bulan Januari 2013 dan diikuti oleh sedikitnya 1.123 pengikut. ‘Kicauan’ suporter termasuk ‘kicauan kembali’ (re-tweet) pernyataan dari pihak resmi terkait mengenai wacana tersebut menjadi informasi bermanfaat bagi warga negara Polandia yang sangat antusias menunggu datangnya berita baik bagi paspor mereka.

Kelihatannya, bebas visa di hari kekinian kini bukan hanya semata-mata bahan perdebatan dan perbincangan antara para pejabat dalam dan luar negeri saja. Kiranya, ‘rakyat jelata’ pun ikut turun ke lapangan untuk mengampanyekan bebas visa, dengan harapan jeritan mereka didengar oleh pihak yang bersangkutan. Hal ini membuktikan bahwa bebas visa tidaklah semata-mata dianggap sebagai objek yang mengangkat gengsi paspor sebuah negara, lebih dari itu bebas visa kian dianggap sebagai sebuah kebutuhan yang tak lagi tersier.

Sumber-sumber:
  1. Petisi untuk Uni Eropa: https://www.change.org/p/european-commission-schengen-visa-exemption-for-indonesian-citizens
  2. Kampanye bebas visa oleh negara Afrika Selatan: https://www.thesouthafrican.com/join-our-campaign-restore-visa-free-travel-for-south-africans-to-the-uk/
  3. Kampanye ‘Visa-Free Africa’ oleh Rwanda: http://www.newtimes.co.rw/section/read/200287/
  4. Kampanye Rumania untuk bergabung dalam program Visa Waiver AS: https://www.romania-insider.com/online-petition-romania-visa-waiver-program/  selain itu ada pula http://www.rabcus.org/visa-waiver.html
  5. Akun Twitter VisaWaiverForPL : https://twitter.com/VisaWaiverForPL

@IvanRT05

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: