‘Begpacker’, Saat Orang Luar Mengemis di Dalam

Bisa dibilang, ‘Turis (asing) Pengemis’ adalah topik panas yang seminggu terakhir ini sempat menghangatkan telinga para pendengar berita, dan menyilaukan mata para pembaca warta. Tidak sedikit yang menunjukkan rasa simpatinya, tapi banyak pula yang mengekspresikan rasa bingungnya. Kehebohan dan gegap gempita tersebut dimulai saat dua turis asal Selandia Baru yang sedang plesiran di Jakarta kehabisan ongkos untuk melanjutkan perjalanan ke Cirebon.

turis selandia baru mengemis
Kedua turis asal Selandia Baru yang kehabisan ongkos saat plesiran di Jakarta. Foto: dok. Instagram TMC Polda Metro Jaya

Berdasarkan berita terbitan detik.com pada tanggal 24 Februari 2018, dikabarkan bahwa kedua turis asal Selandia Baru lantas diberikan pertolongan oleh polisi untuk sampai ke tempat tujuannya, dengan menaiki sebuah truk. Tidak dijelaskan dalam berita tersebut, apakah kedua turis tersebut lantas ‘mengganti ongkos’ angkutan yang diberikan atau tidak. Sebenarnya, sebagai seorang warga negara Indonesia (WNI) yang lahir dan tinggal di Jakarta, ‘mengemis’ merupakan kegiatan yang bisa dibilang tidak langka. Tetapi hal tersebut akan menjadi sangat langka, apabila yang mengemis adalah orang asing. Lebih tepatnya, orang asing yang sedang berlibur di Indonesia…

Bukan bermaksud memiliki mental ‘inferiority complex’, tapi saya akui bahwa Indonesia adalah sebuah negara dengan pendapat per kapita yang nominalnya lebih rendah ketimbang negara-negara tetangga serekanan ASEAN. Apalagi kalau dibandingkan dengan negara-negara ‘Barat’ seperti Jerman, Rusia, Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan konco-konconya. Bisa dibilang, ini adalah salah satu faktor yang membuat saya tercengang, ketika ada turis asal sebuah negara kategori maju dengan pendapatan per kapita sebesar 41.629 USD kedapatan kehabisan ongkos dalam rangka liburan di negara dengan pendapatan per kapita sebesar 3.858 USD (Berdasarkan data IMF per tahun 2017). Atau saya beri perumpamaan sebaliknya, adalah tidak mengherankan apabila ada seorang WNI nekad menjadi imigran (pekerja kasar) gelap di negara lain karena tingkat pendapatan di negara tersebut yang jauh lebih tinggi ketimbang Indonesia. Belum lagi keuntungan yang didapat dari nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap Rupiah. Tetapi ketika ada orang asing yang menjadi pekerja gelap di Indonesia, mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya dalam hati, ‘Sebenernya ‘ngapain sih mereka di sini kalau di negara asalnya bisa dapat penghasilan yang lebih tinggi?’.

Sebenarnya, kedua turis asal Selandia Baru tersebut bukan lah kali pertama di mana negeri kita menjadi saksi dari aksi turis asing yang kehabisan ongkos. Bahkan, ada dari mereka yang sampai mengemis atau mengamen untuk meraih rezeki guna melanjutkan petualangan mereka. Mari kita tengok reka mereka.

1. Turis Jerman di Bali Menjadi Pengemis, Nih Fotonya…

turis-kehabisan-uang6
Turis asal Jerman, Benyamin yang meminta-minta di lampu merah Jalan Bypass Ir Soekarno – Hatta, Delod Peken, Tabanan, Minggu (4/9) sore. Foto: Radar Bali/JPG

Turis asal negara ‘super power’ di Benua Eropa ini memang sempat menghebohkan banyak pihak, tidak hanya di Indonesia saja. Kendati berasal dari negara yang notabene ‘kaya raya’, turis berinisial BH ternyata salah perhitungan saat berlibur di Indonesia. Seperti dilansir oleh JPNN.com, BH kehabisan bekal setelah seminggu berada di Bali. Sambil menunggu kiriman dana dari keluarganya di Jerman, BH terpaksa mengemis. Akhirnya, BH ditangkap oleh Satpol PP di Surabaya pada bulan September 2016. Berita terkait dapat diakses melalui tautan ini.

2. Alamak… Kehabisan uang, tiga turis ngemis di Jalan Ahmad Yani

turis-kehabisan-uang3
KEHABISAN UANG : Bule yang tidak punya uang dan memiliki akal untuk memperlihatkan ke masyarakat dengan menuliskan di secarik kertas kemarin(Istimewa)

Sebuah akun instagram milik ‘Wayan Dedi Cahyani’ menangkap basah tiga turis asing yang kehabisan uang dan terpaksa mengemis di Jalan Ahmad Yani, Denpasar. Salah satu dari ketiganya memegang sebuah kertas bertuliskan ‘Tidak Ada Uang’ dan lalu ditunjukkan kepada pengguna jalan yang berlalu-lalang. Dalam berita tersebut, tidak disebut mengenai negara asal ketiga turis yang kedapatan ‘apes’ tersebut.

3. Di Bali, tampak 3 traveler bule asal Rusia mengamen untuk membeli tiket

turis-kehabisan-uang2
Tiga turis Rusia mengamen di Bali [image source]

Tak hanya itu (mengamen), dua pria dan satu wanita berambut pirang tersebut juga mendirikan tenda seadanya di dekat pasar Beringkit, Mengwi, Badung, Bali untuk tidur. Seorang warga melaporkan hal ganjil ini dan pemerintah Pulau Dewata langsung bertindak. Satpol PP daerah setempat pun akhirnya menciduk 3 WNA tersebut dan akan mendeportasi mereka secepatnya. Ditambah lagi, setelah dilakukan interogasi, tiga bule Rusia itu mengaku mengamen untuk membeli tiket ke Kuala Lumpur, Malaysia.

4. Heboh! Dua bule menjadi gelandangan dan mengemis di Pekalongan diduga karena hal ini…

bule gelandangan
Kedua turis asing yang kehabisan ongkos di Pekalongan (detik.com)

Pasangan yang berasal dari Republik Ceko dan Slovakia ini tidak luput dari musibah kehabisan ongkos saat sedang berlibur di Indonesia. Mengutip dari berita terbitan juruberita.com, pasangan tersebut terpaksa menginap di Pekalongan karena si turis pria sakit. Hingga akhirnya, pihak hotel menggratiskan biaya penginapan, dan oleh petugas Polsek Wiradesa, keduanya ditumpangkan sebuah bus tanpa perlu bayar. Sesampainya di Jakarta mereka diarahkan menuju kedutaan.

Mohon dicatat setebal-tebalnya, bahwa saya tidak menyudutkan atau memojokkan atau menghardik atau menghina atau membenci para turis yang memiliki budget rendah saat liburan di suatu negara, termasuk Indonesia. Jujur, budget saya pribadi pun kalau sedang liburan bisa dikatakan sangat rendah, karena ingin yang biasa-biasa saja dan tidak mau yang berlebihan. Tapi, syukurnya saya tidak pernah kehabisan ongkos di negara lain, bukan karena saya pelit tapi karena saya sudah perhitungkan segalanya, termasuk menyiapkan ‘biaya tak terduga’. Mohon jangan sebut saya sebagai WNI anti-asing, karena saya sendiri sekarang ini tengah berdomisili di negara asing. Saya punya rasa kagum dan hormat tersendiri terhadap mereka.

Ketika turis asal negara-negara ‘maju’ tersebut hendak liburan ke Indonesia, pada umumnya mereka hanya perlu mempersiapkan tiket perjalanan dan paspor yang masih berlaku. Beda ceritanya ketika seorang WNI (seperti saya ini) ingin berlibur ke negara-negara tersebut. Saudara saudari setanah air yang hobi keliling dunia atau yang sudah pernah berkunjung ke benua seberang, rasanya sudah tidak asing lagi dengan istilah ‘visa’.

Visa sendiri adalah sebuah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh sebuah negara kepada warga negara asing yang kemudian memungkinkan orang tersebut untuk memasuki dan tinggal di wilayah negara penerbit visa dalam kurun waktu yang telah ditetapkan. Bisa dibilang, adalah sebuah perjuangan tersendiri untuk mendapatkan sebuah dokumen bernama ‘visa’. Biaya, waktu, dan tenaga adalah komponen utama yang harus saya investasikan ketika sedang mengurus sebuah visa.

Biaya, karena biasanya permohonan sebuah visa untuk berlibur ke negara lain tidak lah gratis. Saya beri contohnya, saya harus merogoh sebanyak 160 USD (sekitar Rp. 2.200.000,-) dari dompet untuk mendapatkan visa turis Amerika Serikat (B1/2). Untungnya, visa turis Amerika Serikat diberikan dalam jangka panjang, biasanya sampai 5 tahun ke depan. Ada pula visa wisata Kanada yang bisa didapat seharga 100 CAD (sekitar Rp.1.060.000,-). Belakangan ini, pemerintah Kanada agak ‘longgar’ soal pemberian visa. Visa wisata bisa didapat juga untuk jangka waktu yang lama, tetapi tidak pernah diberikan melampaui masa berlaku paspor. Yang cukup terkenal, visa Schengen yang memungkinkan pemiliknya untuk berlibur ke (minimal) 26 negara di benua Eropa cukup dengan visa yang sama. Biayanya yakni 60 EUR (sekitar Rp. 1.020.000,-). Belum lagi biaya-biaya yang harus dikeluarkan selama proses pengurusan visa: biaya asuransi perjalanan, biaya foto kopi, biaya transportasi, biaya tak terduga kalau kita mendadak lapar saat pergi ke kedutaan lalu memutuskan untuk jajan di tengah jalan (ehhhh……)

Waktu dan tenaga, saya rasa saya tidak perlu jelaskan kedua komponen ini. Untuk mengurus sebuah visa, saya ambil pengurusan visa Schengen melalui Belanda sebagai contohnya. Saya menyiapkan dokumen-dokumen sebagai berikut:
1. Surat keterangan kerja yang dikeluarkan oleh pihak manajemen di mana saya bekerja.
2. Surat izin kerja untuk berlibur.
3. Asuransi perjalanan yang meng-‘cover’ selama perjalanan saya di Belanda.
4. Surat undangan dari kerabat yang merupakan warga negara Belanda. Kalau tidak ada, poin ini bisa digantikan oleh reservasi penginapan seperti hotel atau hostel.
5. Rekening koran selama 3 (atau 6) bulan terakhir, yang disahkan oleh pihak Bank tempat saya menabung. Ada pula bank yang men-charge biaya administrasi untuk mendapatkan rekening koran dimaksud. Oh iya, untuk informasi, negara-negara anggota Schengen Zone memberikan saran mengenai jumlah saldo yang mengendap di rekening kita kalau kita ingin memohon visa Schengen.

daftar rekening schengen
Tabel di atas berisi nominal saldo rekening tabungan yang disarankan oleh The Schengen Zone.

 

Oh iya, kendati dokumen persyaratan sudah lengkap, dan biaya sudah saya bayarkan (dengan tipsnya… *bercanda*), TIDAK ADA JAMINAN bahwa visa tersebut akan saya dapatkan. Tidak ada jaminan bahwa saya akan lancar terbang melanglangbuana ke seberang samudera. Tidak ada jaminan bahwa saya akan mendapatkan visa sesuai yang saya inginkan. Ada faktor lain pemberian sebuah visa, termasuk faktor subyektifitas seorang yang memproses aplikasi permohonan visa yang saya ajukan. Satu hal lagi, keputusan mengizinkan saya masuk ke wilayah suatu negara tertentu adalah di tangan otoritas imigrasi berwenang setempat yang akan ‘mewawancara’ saya setibanya di negara tujuan. Padahal, padahal, saya murni ingin bertamasya saja dan berjumpa dengan rekan-rekan saya yang tinggal di Belanda. Tidak ada hasrat untuk mengemis, tidak ada minat untuk bekerja gelap (bekerja tanpa dokumen yang sesuai) dan tidak ada keinginan untuk mengamen (ditambah lagi suara saya yang tidak merdu).

rekening tabungan 6 bulan

Hal-hal yang saya jabarkan di atas, tidak perlu ‘diderita’ oleh turis asing yang ingin berlibur ke Indonesia, termasuk reka mereka yang kedapatan mengemis/mengamen. Jujur, menurut saya di sini lah letak ketimpangan kebijakan bebas visa. Saya harus akui, kebijakan bebas visa versi terkini yang mengizinkan turis asal 168 negara di dunia berkunjung ke Indonesia adalah baik sifatnya, sangat sangat baik. Apalagi pemerintah tengah berupaya sekeras mungkin untuk terus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan saya sebagai WNI sudah sepatutnya mendukung program positif tersebut. Saya sendiri sangat aktif dalam mempromosikan Indonesia sebagai destinasi wisata kepada orang asing yang saya temui di sini.

Sayangnya, kebijakan bebas visa tersebut sifatnya ‘searah’. Artinya, turis asing dari Rusia, Jerman, Republik Ceko, dan Slowakia tidak perlu visa untuk berlibur di Indonesia sedangkan turis asal Indonesia memerlukan visa wisata untuk berlibur ke Rusia, Jerman, Republik Ceko, dan Slowakia* (Jerman dan Republik Ceko adalah negara anggota Uni Eropa dan juga negara anggota Schengen Zone). Tapi, salah satu sisi baik dari kebijakan bebas visa Indonesia yang saya perhatikan, adalah ada beberapa negara yang tidak lama kemudian ‘membalas’ kebaikan Indonesia tersebut. Mali dan Rwanda, adalah contoh negara di benua Afrika yang secara jelas menegaskan bahwa bebas visa diberikan kepada WNI atas dasar resiprositas (asas timbal balik). Ada pula negara lain seperti Mauritius, Guyana, Suriname, Belarus, dan Ukraina yang dalam beberapa tahun terakhir ini memberikan kemudahan visa bagi warga Indonesia (meskipun saya tidak menemukan bukti konkritnya, saya harap hal tersebut adalah ‘balasan’ terhadap kebaikan hati Indonesia).

Mali bebvis 3
Pada situs resmi Kedutaan Besar Republik Mali di India, tertulis secara jelas bahwa WNI tidak wajib memohon visa wisata Mali karena hubungan yang erat antar kedua negara.

Ketika negara lain takut, cemas, was-was, dan curiga terhadap seorang turis asal Indonesia yang ingin berlibur di negara tersebut, justru turis dari Jerman, Rusia, Republik Ceko, dan Slowakia lah yang kedapatan kehabisan ongkos dan terpaksa mencari rezeki dengan cara mengemis/mengamen. Saya bisa paham, ini lah salah satu alasan mengapa WNI harus memohon visa, karena pihak negara tersebut ingin memastikan seribu persen bahwa si WNI memiliki modal yang memadai untuk berlibur di negaranya. Saya acungi jempol dan angkat topi kepada saudara saudari senegara yang terjun payung membantu turis asing yang kesulitan, tapi saya kadang tidak membayangkan, apakah seorang WNI yang mengalami kesulitan serupa di luar negeri juga akan  mendapatkan kehangatan yang sama dari penduduk sekitar? Saya berharap, iya.

Saya akui, rasa was-was global terhadap WNI bukanlah tanpa dasar. Jumlah visa overstayter dan pekerja-tanpa-dokumen asal Indonesia juga masih cukup banyak. Tapi pemerintah Indonesia, melalui Dirjen Imigrasi serta Kementerian Luar Negeri sudah menunjukkan itikad baik dan upaya nyata untuk menciptakan Indonesia zero-TKI-gelap. Sayangnya, masih banyak saja yang ‘nakal’ dan ngumpet-ngumpet jadi imigran gelap di negara lain.

Bicara mengenai turis asing yang mengemis atau mengamen, ada yang menyuarakan agar perwakilan negara asal turis tersebut bertanggung jawab penuh terhadap keberadaan turis tersebut. Lantas apa kata Kementerian Luar Negeri? Berita terbitan detik.com tanggal 28 Februari 2018 membahas hal tersebut:
detikcom turis gembel
Lalu, apa tindakan dari pihak Imigrasi Indonesia untuk mencegah kejadian serupa kembali terulang di Tanah Air? Berdasarkan berita terbitan detik.com tertanggal 27 Februari 2018, seperti ini jurusnya:

detikcom turis gembel 2
Lalu, apabila turis tersebut harus dipulangkan (alias dideportasi) ke negara asal, apakah pihak pemerintah Negara Indonesia yang mengucurkan dananya untuk kepergian mereka keluar dari NKRI? Jangan marah dulu saudara saudari, ada penjelasan dari Bapak Agung selaku Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi, Agung Sampurno, melalui detikcom, Rabu (28/2/2018).

detikcom turis gembel 3

 

Lalu, apa tanggapan kita-kita mengenai kebijakan bebas visa bagi wisatawan asing? Apakah kebijakan tersebut sepatutnya terus dijalankan? Atau malah dihapuskan? Menurut Pak Agung, tidak ada korelasi antara kebijakan memberi bebas visa dengan dampak yang ditimbulkan dari datangnya orang asing ke Indonesia. Saya cuplik berita keluaran detik.com tanggal 27 Februari 2018:

detikcom turis gembel 5
Anggota Komisi I DPR, Bobby Rizaldy beda pendapat. Menurut beliau, fenomena bule kehabisan ongkos di Indonesia adalah akibat kebijakan bebas visa. Beliau meminta kebijakan itu dievaluasi. Dalam  berita terbitan detik.com, beliau menyebutkan bahwa kebijakan bebas visa sudah waktunya dievaluasi. Selain itu, meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia bukan lah satu-satunya indikator kebijakan bebas visa.

detikcom turis gembel 4Saya pribadi mendukung agar kebijakan bebas visa yang sudah berjalan selama beberapa tahun belakangan ini dikaji ulang. BUKAN karena kesal akibat turis-turis asing yang ‘alih profesi’ menjadi pengemis dan pengamen, TAPI karena ketimpangan perlakuan negara tersebut terhadap turis asal Indonesia seperti yang saya jabarkan di atas. Saya berharap, justru kebijakan bebas visa ini dikaji ulang dengan menitikberatkan pada asas timbal balik pemberian bebas visa bagi WNI dari negara-negara yang bersangkutan. Tahun 2017, ada perbaikan yang cukup signifikan terhadap kenaikan peringkat paspor (biasa) Republik Indonesia. Sepanjang tahun lalu, ada sekitar 11 negara yang memberikan kemudahan visa bagi WNI, entah itu bebas visa, visa saat kedatangan (visa-on-arrival) atau-pun pengurusan visa secara elektronik (e-visa). Kalau mau tahu lebih lanjut, antaranews.com punya beritanya.

Apa pendapat Pak Tedjo Iskandar? Beliau adalah seorang tokoh pariwisata Indonesia yang malang melintang di dunia travel agent, sekaligus pendiri TTC (Tourism Training Centre).

detikcom turis gembel 6Pak Tedjo sedikit menyinggung kebijakan bebas visa yang diberikan pemerintah. Kebijakan itu memang bagus untuk mendatangkan lebih banyak turis, hanya saja harus diimbangi oleh peraturan yang lebih tegas. Dalam hal ini, dukungan dari pihak Imigrasi.

“Pemerintah dan Imigrasi harus lebih ketat menyeleksi turis saat masuk. Harus lebih jelas datanya dari tiket pulangnya, bawa uang berapa dan lain-lain. Awasi spot entry, dari bandara sampai pelabuhan,” ujarnya. (aff/aff) – detikTravel 27 Februari 2018.

Semoga, tidak ada lagi turis asing yang kehabisan ongkos saat liburan di Indonesia. Hal tersebut justru bertolak belakang dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan devisa dari sektor pariwisata. Saat turis asing diharapkan membelanjakan uangnya di Indonesia dalam jumlah yang ‘wow’, mereka malah kedapatan mengemis karena uang habis. Saya doakan agar setiap turis asing yang datang ke Indonesia senantiasa berbahagia dan membawa oleh-oleh sebuah memori yang tak terlupakan selama berlibur di Tanah Air. Saya juga berharap agar pemerintah negara asing juga bersedia mempertimbangkan kebijakan bebas visanya bagi wisatawan asal Indonesia. Adalah sebuah kemudahan tersendiri bagi kita sebagai WNI apabila tidak perlu lagi ‘gopoh-gopoh’ mengurus visa sebelum keberangkatan.

Dan yang tidak kalah penting, saya berharap juga setiap dari kita sebagai WNI, tidak ada lagi yang berminat menjadi pekerja gelap di luar negeri. Pendapatan boleh saja berbentuk valuta asing, tapi hal tersebut tidak sebanding dengan risiko-risiko yang harus ditanggung bila tertangkap suatu saat. Kalau kedapatan bekerja secara ilegal di negeri orang, si pelaku akan diciduk oleh aparat imigrasi setempat, lalu ditahan dan /atau kemudian maju ke meja peradilan, lalu dipulangkan (atau bahasa kerennya, dideportasi) kembali ke Indonesia, lalu namanya akan masuk dalam daftar pencekalan sehingga dalam jangka waktu yang telah ditentukan tidak bisa lagi kembali ke negara tersebut. Belum lagi perlakuan pemberi kerja yang belum tentu sesuai hukum dam upah yang tidak seberapa, mengingat ‘posisi hukum’ pekerja gelap yang hampir tidak ada karena statusnya yang ilegal.

Kalau menurut anda sekalian, bagaimana?

@IvanRT05

*Biaya pengurusan visa yang tertera di atas adalah akurat per tanggal 1 Maret 2018.
*Kurs valuta asing yang tertera di atas adalah berdasarkan database google.com per tanggal 2 Maret 2018.

2 thoughts on “‘Begpacker’, Saat Orang Luar Mengemis di Dalam

  • March 25, 2018 at 1:24 am
    Permalink

    Yaahhhh, pada akhirnya bukan peraturan bebas visanya yg salah, tapi peningkatan pengawasannya yg perlu

    Reply
    • March 28, 2018 at 4:26 am
      Permalink

      Setuju sekali kalau peningkatan pengawasan turis asing di lapangan perlu ditingkatkan, tapi ‘penyaringan’ turis asing yang ingin berlibur di Indonesia bisa dimulai dengan memperketat siapa yang bisa masuk ke Indonesia, berhubung turis dari hampir seluruh negara di dunia bebas keluar masuk RI tanpa dokumen visa.

      Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: