Faktor yang membuat perbedaan kedudukan paspor di Dunia

Kita tahu paspor adalah sebuah dokumen/identitas seorang warga negara ketika bepergian ke luar negeri. Tapi tahukah anda bahwa kedudukan paspor setiap negara itu berbeda? Apa sih yang membuat kedudukan paspor setiap negara itu berbeda? VISA! Iya, visa inilah yang membuat perbedaan tersebut. Visa adalah sebuah dokumen “sakti”, selain paspor, jika kita ingin bepergian ke luar negeri, dengan kata lain visa ini surat ijin tinggal dari negara yang akan kita kunjungi dan visa ini diterbitkan oleh negara yang bersangkutan. Nah untuk mendapatkan visa ini tidak semua paspor diberi kemudahan, ada kalanya untuk mendapatkan sebuah visa, kita harus melalui serangkaian proses yang mungkin menguras waktu dan cukup melelahkan.
 
Sumber gambar
Visa ini terbagi berbagai jenis,contohnya visa turis, visa bisnis, visa kerja, visa study dan lain-lain. Setiap negara mempunyai kebijakan tersendiri serta hak mutlak dalam hal ini dan murni keputusan internal negara itu sendiri. Dalam artikel ini saya tidak akan bahas semua jenis visa, visa turis atau kunjungan wisata yang akan saya bahas dalam artikel ini, berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kedudukan paspor sebuah negara, yaitu:
 
1.     Faktor Politik

Sangat lumrah politik  sering digunakan sebagai senjata dalam beberapa urusan bahkan di dunia hubungan internasional guna melangsungkan kepentingan negara yang bersangkutan supaya lancar. Sebagai contoh, beberapa negara yang tergabung dalam commonwealth mempunyai kedudukan paspor yang kuat, sebut saja Singapore dan Malaysia. Kedua negara tersebut mempuyai kedudukan paspor yang sangat luar biasa, mereka senantiasa “bercokol” di jajaran ‘top 10’ paspor terkuat di dunia #APPLAUSE
 
Sumber gambar
2.     Faktor Ekonomi

     Ya, faktor ini juga menjadi pertimbangan sebuah negara dalam memberikan kemudahan visa. Negara-negara yang berekonomi kuat sebagian besar mempunyai kedudukan paspor yang kuat juga, tentu kita tahu UAE dan Qatar adalah sebuah negara yang superkaya yang bisa “membeli” visa waiver UK dengan ekonominya, hal ini sangat wajar untuk memperlancar para investor dari negara tersebut untuk berinvestasi di UK.
 
3.     Faktor Keamanan

       Setiap negara menginginkan negaranya aman dan bebas dari ancaman asing atau luar negeri, hal ini yang menyebabkan faktor keamanan berpengaruh dalam hal pemberian bebas visa. Contoh sekarang ini adalah USA yang membuat kebijakan imigrasi dengan cara “banned” negara-negara yang dirasa mengancam keamanan negaranya.
4.     Faktor Sosial-Budaya
      
      Faktor ini mungkin didasari karena asal usul, pemikiran dan wilayah yang sama (berdekatan). Beberapa negara menerapkan bebas visa karena hal ini, kita bisa liat negara-negara Gulf (kecuali Qatar), Uni Eropa bahkan Amerika Selatan mengadopsi cara ini untuk mempermudahkan warga negara anggota tersebut bahkan mereka menerapkan “freedom movement”. Tetapi cara ini tidak selamanya berjalan lancar, baru-baru ini UK memutuskan untuk keluar dari kesepakatan ini karena dirasa merugikan UK dalam hal finansial dan imigrasi, kejadian ini dikenal dengan Brexit.
5.     Faktor Jumlah Penduduk

      Semakin banyak penduduk sebuah negara, semakin banyak juga yang harus diawasi dan otomatis mungkin bisa merepotkan negara yang akan memberikan bebas visa dikarenakan harus adanya pengawasan ekstra terhadap negara tersebut. Tiongkok, India dan Indonesia adalah salah satu  negara yang mempunyai penduduk yang sangat besar, mungkin karena itulah yang menyebabkan negara-negara tersebut sampai saat ini mempunyai kedudukan paspor yang lemah.
6.     Faktor Timbal-Balik (Resiprocal)
      
      Dari sekian faktor, mungkin inilah cara yang paling ideal untuk memberikan bebas visa karena dengan cara ini kedua negara yang bersangkutan melakukan kesepakatan dengan hasil yang sama karena sifatnya dua arah. Banyak sekali negara yang melakukan kesepakatan bebas visa, contohnya yaitu Indonesia dan Mali. Mali memberikan bebas visa kepada Indonesia dikarenakan asas resiprositas yang dijunjung tinggi oleh Mali sebagai kebijakan internasionalnya.
 
7.     Faktor Mentalitas

      Salah satu alasan sebuah paspor negara itu lemah dikarenakan mentalitas warga negara itu sendiri. Sebuah negara tidak akan memberikan atau akan mencabut bebas visa jika negara tersebut adalah penyumbang tenaga kerja asing ilegal bahkan overstayer yang dilakukan secara sengaja. Tindakan tersebut secara tidak langsung merugikan dirinya sendiri bahkan negaranya, hal ini yang dapat memperlambat dan menghambat proses pembebasan visa.
 
8.     Faktor Internal (Dalam Negeri)

   Pada dasarnya visa ini adalah kesepakatan yang bersifat hubungan internasional, tapi pada kenyataannya faktor internal bisa mempengaruhi dan berdampak besar terhadap paspor negara tersebut. Sebagai contoh, ada sebuah negara di Asia Tenggara yang Kementrian Luar Negerinya berupaya agar paspor negaranya mempunyai kedudukan kuat dan bebas visa ke banyak negara di dunia. Tapi upaya itu ‘dihalangi’ bahkan ‘dijegal’ oleh beberapa pihak yang mungkin di luar kepentingan dengan alasan untuk meningkatkan pariwisata domestik dan mencegah ‘bercucurnya’ devisa ke luar negeri. Bisa tebak negara manakah itu? *peace
 
9.     Faktor Pemberian

   Biasanya cara ini ditempuh untuk meningkatkan pariwisata negara tersebut. Sebagai contoh Indonesia memberikan bebas visa ke ratusan negara di dunia dalam upaya menarik wisatawan mancanegara untuk kepentingan pariwisata di Indonesia. Adakalanya hal ini bisa jadi “boomerang” untuk negara pemberi visa tersebut jika kurangnya pengawasan keamanan dan keimigrasian terhadap turis dari negara mana yang diberikan fasilitas tersebut. Mungkin kebijakan seperti ini bisa  dimanfaatkan oleh warga asing nakal yang akan tinggal di negara tersebut secara ilegal.
 
10. Faktor Cari Dukungan

     Mungkin faktor ini terdengar main-main dan terkesan mengada-ada, tapi faktor ini terjadi di dunia hubungan internasional sekarang ini. Terbaru ada Qatar yang membebaskan visa ke banyak negara (termasuk Indonesia) untuk mencari dukungan karena adanya krisis negara-negara teluk.
 
11. Faktor Keyakinan/Agama

    Sangat sensitif membahas hal ini, tetapi di dalam hubungan internasional faktor keyakinan atau agama sudah lumrah dan berpengaruh terhadap hubungan antara negara. Sebagai contoh warga negara Israel dilarang masuk Saudi Arabia dan Iran, bahkan paspor negara lain (bukan paspor Israel) dilarang masuk ke negara tersebut jika terdapat cap visa Israel di paspornya. #ngeri
 
12. Faktor Diplomasi

    Dari semua faktor di atas, akan sangat percuma jika diplomasi ini dilewatkan. Inilah faktor vital yang sangat mempengaruhi kedudukan paspor sebuah negara. Kita ambil contoh, Timor Leste adalah negara yg berekonomi lemah tetapi mereka bebas visa Schengen. Belum cukup? USA adalah salah satu negara yang berpenduduk besar, tetapi paspor mereka begitu kuat. Kedua negara tersebut adalah beberapa contoh negara yang mengandalkan kekuatan diplomasi yang bagus dan berdampak kepada kedudukan paspor negara tersebut.
 
Itulah faktor-faktor yang mempengaruhi kedudukan paspor sebuah negara. Bagaimana untuk paspor Indonesia sendiri? Kita harus realistis karena banyak hambatan untuk mewujudkan paspor Indonesia kuat, hambatan tersebut sebagian besar ada di lingkup internal Indonesia sendiri. Berikut faktor-faktor kenapa paspor Indonesia lemah:
 
1.      Harus diakui kekuatan diplomasi Indonesia ini lemah, tetapi semenjak dipimpin Menteri Luar Negeri Ibu Retno Marsudi, secara perlahan upaya diplomasi dan negosiasi bebas visa dengan negara-negara lain mengalami kemajuan. Terakhir usaha beliau negosiasi dengan Serbia membuahkan hasil manis dan upaya pembebasan visa Schengen Area dan Rusia oleh beliau tinggal menunggu keputusan dari negara-negara tersebut walaupun waktunya pastinya tidak ada yang tahu.
 
2.      Dalam politik dan ekonomi, Indonesia untuk saat ini belum maksimal dan berpengaruh kepada negara lain secara global. Namun peran aktif Indonesia di kancah internasional sekarang ini bisa menjadi poin tambahan untuk pemulusan negosiasi visa yang dilakukan Indonesia.
 
3.      Faktor jumlah penduduk dan mentalitas warga negara Indonesia sangat berpengaruh dalam hal pemberian bebas visa. Banyak sekali warga negara Indonesia yang memanfaatkan bebas visa dengan menjadi tenaga kerja ilegal, bahkan visa overstayer. Kasus terbaru, pemerintah Jepang memberi ultimatum mencabut visa waiver untuk warga negara Indonesia yang memiliki paspor elektronik dikarenakan meningkatnya jumlah overstayer asal Indonesia yang berdampak pada banyaknya pengguna e-paspor yang ditolak untuk masuk ke wilayah Jepang dan dideportasi oleh otoritas imigrasi Jepang.
 
4.      Faktor internal. Ini sangat berpengaruh dalam perkembangan paspor Indonesia. Usaha Kemenlu untuk negosiasi bebas visa banyak dijegal oleh pihak-pihak lain yang menginginkan paspor Indonesia lemah dengan dalih mendorong pariwisata domestik dan mencegah devisa ‘ngacir’ ke luar negeri.

Mungkin 4 faktor tersebut yang sangat terlihat ‘secara kasat mata’ yang menyebabkan paspor Indonesia masih lemah. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain, terutama untuk kepentingan diplomasi. 
 
“Paspor itu bukan hanya sebuah identitas, jauh lebih dari itu paspor adalah sebuah jati diri, kebanggaan dan kepercayaan terhadap negara lain.”
 

 

-Reza H- @freevisa4IDN

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: