Menlu Retno Tandatangani MoU, Lawan Radikalisasi & Bahas Visa Schengen di Bilateral Bahrain, Inggris & Ceko

Rabu, 30 September 2015
New York. Di sela-sela pertemuan sesi Debat Umum Sidang Majelis Umum (SMU) PBB ke-70 Menlu Retno melakukan pertemuan bilateral dengan tiga (tiga) negara sahabat, yaitu Bahrain, Inggris, dan Republik Ceko (28/9).
 
Pertemuan Bilateral dengan Bahrain
Menlu RI dan Menlu Bahrain, Shaikh Khalid Bin Ahmed Al-Khalifa, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Kerja Sama Politik yang diharapkan dapat lebih mempererat hubungan bilateral kedua negara.
 
Dalam pertemuan, Menlu Bahrain menyampaikan rencana untuk membuka keduataan besarnya di Jakarta tahun 2016 mendatang. “Bahrain mengerti pentingnya untuk membuka kedutaan besar di Jakarta sebagai diplomatic capital city of ASEAN. Ini menjadi salah satu faktor Bahrain akan segera buka kedutaan besarnya di Jakarta pada 2016” tegas Menlu Retno.
 
Kedua Menlu membahas upaya untuk meningkatkan kerja sama ekonomi. Menlu RI menyampaikan kerja sama keuangan Syariah sebagai salah satu sektor untuk dapat ditingkatkan. “Indonesia memiliki sektor keuangan Syariah yang maju. Kerja sama di bidang ini akan dapat saling menguntungkan,” paparnya.  
Pertemuan juga membahas upaya untuk meningkatkan kerja sama antara ASEAN dan GCC (Gulf Cooperation Council). Menurut Menlu Bahrain, kerja sama kedua organisasi regional memiliki pengaruh besar untuk meningkatkan kesejahteraan di kedua kawasan.
Kedua Menlu juga sepakat untuk terus kerja sama dalam menjajaki kemungkinan saling dukung bagi pencalonan masing-masing sejumlah organisasi internasional, termasuk pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap DK PBB.

Bahrain merupakan negara mitra dagang potensial di Timur Tengah. Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai angka USD 219,59 juta (2014). Nilai investasi Bahrain di Indonesia mencapai US$120 juta dengan jumlah wisatawan Bahrain ke Indonesia setiap tahunnya sebaganyak 1.608 orang.
Pertemuan Bilateral dengan Inggris
Dalam pertemuan bilateral Menlu RI dengan Minister of State for Foreign and Commonwealth Affairs Inggris, Rt. Hon. Hugo Swire, kedua Menteri membahas berbagai tindak lanjut dari hasil kunjugan PM Inggris pada akhir Juli lalu.
Di bidang ekonomi, Menlu RI mengharapkan agar investasi Inggris ke Indonesia dapat meningkat, khususnya dengan pembuatan template perjanjian investasi bilateral yang akan selesai dalam waktu dekat
Menlu RI menyampaikan rencana kunjungan Presiden RI ke Inggris pada tahun 2016. Hal ini sebagai tindak lanjut undangan PM Inggris kepada Presiden RI pada saat kunjungannya ke Indonesia.
Kedua Menteri juga membahas berbagai upaya dalam memberantas terorisme dan gerakan radikalisasi. Dalam kaitan ini Menteri Swire meyampaikan penghargaan kepada Indonesia atas berbagai upaya yang dilakukan dalam menekan gerakan radikalisasi dan membangun budaya toleransi di Indonesia.
Menlu RI menyampaikan bahwa Indonesia mengedepankan soft power dalam upaya mengatasi gerakan radikalisasi. Dua organisasi Islam besar di Indonesia banyak berperan mendorong Islam yang Rahamatan lilalamin,  mengurangi ruang gerak kelompok radikal.

Menlu RI juga menyampaikan pentingnya peran keluarga dan khususnya perempuan dalam upaya untuk melawan gerakan radikalisasi. “Peran seorang Ibu sangat penting dalam memerangi gerakan radikalisasi.  Pendidikan di keluarga kepada anak anak sejak dini mengenai budaya toleransi dan Islam Rahmattan lilalamain akan mampu mengurangi pengaruh kelompok kelompok radikal” tegas Menlu.   

Inggris merupakan negara mitra strategis Indonesia. Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai angka USD 2,55 miliar (2014). Nilai investasi Ingrris  di Indonesia mencapai US$1,59 miliar dengan jumlah wisatawan Inggris ke Indonesia setiap tahunnya sebaganyak 249,218 orang.
Pertemuan Bilateral dengan Republik Ceko
Dalam pertemuan Menlu RI dengan Menlu Ceko, Y.M. Lubomir Zaoralek, kedua Menlu membahas sejumlah isu yang menjadi kepentingan bersama termasuk peningkatan kerjasama perdagangan, pendidikan dan kekonsuleran.
Menlu Lubomir menyambut baik kerjasama yang selama ini terjalin dengan Indonesia dan terkesan dengan kemajuan yang dicapai oleh Indonesia. “Indonesia merupakan negara yang mempunyai akar budaya demokrasi yang kuat,” imbuhnya.
Kedua Menlu juga menekankan pentingnya upaya pemajuan people-to-people contact yang turut melibatkan semua pemangku kepentingan di kedua negara. Secara khusus, Menlu RI menyampaikan harapannya agar kerja sama antara Universitas dari kedua negara dapat ditingkatkan. Dalam kaitan ini Menlu Lubomir menyambut positif dan berkomitmen untuk melakukan pembahasan internal pembukaan beasiswa bagi pelajar Indonesia.
Selain itu, kedua Menlu sepakat untuk segera menandatangani Persetujuan Bebas Visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas RI-Ceko pada saat rencana kunjungan Menlu Ceko ke Indonesia awal tahun 2016.
 
Menlu RI juga meminta dukungan Ceko terkait dengan pemberian bebas visa bagi WNI yang akan ke negara negara Schengen. “Data telah mencatat bahwa penolakan visa Schengen bagi WNI maupun pelanggaran yang dilakukan oleh pemegang paspor Indonesia di wilayah Schengen sangat sedikit.” tutur Menlu Retno. Menlu Lubomir berkomitmen untuk mendukung permintaan Indonesia pada saat pembahasan isu tersebut di Uni Eropa.
Ceko merupakan mitra dagang RI terbesar ke-4 di Eropa Tengah dan Timur dengan nilai perdagangan yang terus meningkat dari tahun ke tahun dan pada 2014 mencapai USD 260,51 juta. Investasi Ceko ke Indonesia pada tahun 2014 mencapai US$ 200 ribu dan tercatat sejumlah lebih dari 10,000 warga negara Ceko mengunjungi Indonesia pada tahun 2014. (sumber: PTRI NY/BAM/Ed.VKH)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: